Shalat Sunnah (Tahajud) Setelah Witir Boleh?

sholat malamNah, saya memiliki pertanyaan juga nih: Dalam bulan ramadhan ini, setelah sholat sunnah tarawih biasanya ditutup dengan witir. Nah, sholat witir itu kan sholat sunnah sebagai penutup sholat malam. Yang menjadi pertanyaan, boleh dak kalau kita sebelum sahur melakukan sholat tahajud, sementara kita sudah sholat witir saat tarawih?… Nah, setelah mencari dari berbagai sumber berikut penjelasan dari hasil penelusuran saya.

“Ustad, setelah selesai mengerjakan tarawih delapan rakaat, apakah sholat witirnya bisa dilakukan pada waktu berikutnya, misalnya tengah malam setelah sholat tahajud. Karena menurut saya sholat witir adalah penutup sholat hari itu, jadi kalau sudah witir pada sholat tarawih berarti saya tidak bisa mengerjakan sholat tahajud. Bagaimana menurut pendapat ustad?”


Jawaban
Bismillah….
Ada sebagian kaum muslimin yanag beranggapan bahwa, kalau shalat tarawih dimasjid kemudian diikuti sampai witir, maka habislah jatah orang itu untuk melaksanakan shalat sunnah lainnya setelah itu dimalam itu, alasan mereka ini dibangun atas pemahaman mereka terhadap hadits dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya Nabi saw. bersabda: ”Jadikanlah akhir shalat kamu pada malam itu witir.” (Muttafaq ’alaih), mereka memahami pesan rasul agar menjadikan witir sebagai akhir dari shalat sunnah dimalam itu.Pendapat ini saya pikir kurang tepat, karena kalau kita lihat substansi dari hadits tersebut, bukanlah bermakna larangan melaksanakan shalat sunnah setelah selesai shalat Witir, tapi hadits tersebut berisi semacam pesan Rasul kepada kita, agar sebaiknya shalat malam kita diakhiri dengan witir, tetapi bukan melarang shalat sunnah lagi setelah witir, seperti ini lah pendapat yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin al ’Utsaimin dalam fatwanya [Durus wa Fatawa fil Haram al Makki].Apalagi hadits ini bila kita sandingkan dengan hadits Rasulullah lainnya, hadits yang diriwayatkan oleh Thalq bin Ali berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Dalam satu malam tidak ada dua shalat witir”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi, hadits ini shahih menurut Syaikh al Albani dalam kitabnya Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud], hadits Rasul ini melarang ada dua kali witir dalam satu malam, bukan melarang mengerjakan shalat sunnah yang jumlah rakaatnya genap setelah selesai witir, artinya bila anda sudah melaksanakan witir anda hanya dilarang melaksanakan witir lagi, tetapi tidak dilarang melaksanakan shalat sunnah yang bilangan rakaatnya genap.Ditambah lagi hadits dari Ummu Salamah “Sesungguhnya Nabi SAW shalat dua rakaat setelah shalat witir.” [HR. Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah, dan Ibnu Majah menambahkan: “Dan beliau (shalat dengan) duduk”].Jadi sangat jelaslah sudah lemahnya pendapat yang melarang shalat sunnah setelah shalat witir. Intinya apabila anda sudah melaksanakan shalat witir, anda tidak dilarang melaksanakan shalat sunnah setelah witir dimalam itu, asal dengan syarat shalat sunnah yang anda kerjakan berikutnya jumlahnya genap saja, dan tidak ditutup lagi dengan bilangan rakaat ganjil (witir), sebab Rasul melarang adanya dua witir dalam satu malam.Imam Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughny (II/597-599) menerangkan, orang yang telah melaksanakan witir pada awal malam, lalu bangun malam dan hendak melaksanakan sholat malam, maka disunnahkan sholat baginya melaksanakan sholat sunat dua rakaat, tapi membatalkan witirnya. Artinya ia tidak usah melaksanakan sholat witir di awal ibadah sholat malamnya, dan tidak usah melaksanakan sholat witir lagi di akhir sholat malamnya sebagai penutup, dia cukup melaksanakan shalat yang rakaatnya genap.Wallahu a’lam.

Source: http://abunyahasan.blogspot.com/2008/11/shalat-sunnah-setelah-witir-boleh_5374.html

___________________________________________________________________________________________
Sumber kedua:….

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apakah perbedaan sholat tarawih dengan sholat tahajud?
apakah jika sudah sholat tarawih tidak perlu sholat tahajud?
Wassalamu’alaikum
terima kasih
Hendriya Waskita

Jawaban:

Assalamu’alaikum wr. wb.

1. Shalat Tarawih

Pendapat yang populer dalam jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2 + 3 rakaat witir. Ini sesuai dengan hadist A’isyah yang diriwayatkan Bukhari.
2. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2 + 2 rakaat witir + 1 witir. Ini sesuai dengan hadist Ai’syah riwayat Muslim.
3. 11 rakaat terdiri dari 2 rakaat x 4 & 2 rakaat witir + 1 witir. Ini juga diriwayatkan oleh Muslim.
4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat + witir.
5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.

Itu adalah diantara riwayat-riwayat yang sahih shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah.

Khusus untuk bulan Ramadhan Rasulullah pernah shalat berjamaah bersama sahabat, kemudian hari berikutnya beliau tidak lagi melakukan hal yang sama, ketika ditanya alasannya, beliau menjawab karena khawatir diwajibkan. Kemudian pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selasai melakukan shalat 4 rakaat.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu : ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat.

Khusus rakaat shalat tarawih, ada juga yang mengatakan 36 rakaat plus 3 witir, ini diriwayatkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang meriwayatkan 41 rakaat. Bahkan ada yang meriwayatkan 40 rakaat plus 7 rakaat witir. Riwayat dari imam Malik beliau melaksanakan 36 rakaat plus 3 rakaat witir.

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat, termasuk witir. Kedua cara ini sama-sama mempunyai landasan dalil yang kuat.

Shalat tarawih bisa juga disebut shalat qiyamullail, yaitu shalat yang tujuannya menghidupkan malam bulan Ramadhan. Penamaan shalat tarawih tersebut belum muncul pada zaman Rasulullah Saw.

2. Shalat Tahajud

Salat tahajud itu artinya salat malam setelah tidur sejenak. Tahajud berasal dari bahasa Arab “tahajjud”, dari kata dasar “hajada” yang berarti “tidur” dan juga berarti “salat di malam hari”. Orang yang melakukan salat malam disebut “haajid”. Jadi bertahajud artinya melakukan salat sunat di malam hari, setelah tidur. Semua salat sunat yang dikerjakan di malam hari setelah tidur, dengan demikian, disebut salat tahajud atau salat malam (shalatullail).

Shalat tahjud hukumnya sunnah muakkadah bagi umat Islam. Bagi Rasulullah hukumnya sunnah. Dalam riwayat Muslim dikatakan “Sebaik-baik shalat setelah shalat fardlu, adalah shalat pada malam hari”. Jenisnya macam-macam, bisa salat hajat, salat witir, salat tasbih, dan sunat mutlak, atau mungkin juga shalat tarawih.

Dalam melakukan tahajud disunatkan memulainya dengan salat sunat dua rekaat yang ringan (tidak panjang). Kata Nabi saw: “Jika salah satu di antara kalian melakukan salat malam, hendaknya memulainya dengan dua rekaat yang ringan”.[Riwayat Muslim, Abu Daud, dan Ahmad].

Setelah itu silahkan melakukan salat sepuasnya, sekuatnya. Boleh berupa salat hajat (salat hajat ini boleh juga dilakukan di siang hari), salat tasbih, atau salat sunat mutlak (sunat mutlak ini maksudnya asal salat saja dua rekaat, niatnya salat sunat). Semua salat dilakukan dua rekaat-dua rekaat. Kecuali salat witir yang boleh disambung menjadi 3 rekaat, disertai tahiyat awal pada rekaat kedua (sebelum berdiri menuju rekaat ketiga).

Salat tahajud hendaknya diakhiri dengan salat witir. Jadi urutannya, witir dilaksanakan paling akhir, sekiranya setelah itu tidak melakukan salat lagi.

3. Shalat Witir

Diantara madzhab-madzhab fikih, hanya Abu Hanifah yang berpendapat wajibnya shalat witir. Sementara yang lain hanya menganggapnya sebagai sunnat muakkad [kesunaatan yang benar-benar dianjurkan]. Bahkan kedua murid Abu Hanifah sebagai pemegang otoritas utama madzhab Hanafiyah juga beranggapan sama, yakni hanya sunnat muakkad.

Shalat witir adalah “shalat ganjil”, yang didasarkan pada hadits Nabi Muhammad: “Sesungguhnya Allah adalah witr [ganjil] dan mincintai witr [HR. Abu Daud]. Shalat ini dimaksudkan sebagai pemungkas waktu malam untuk “mengganjili” shalat-shalat yang genap. Karena itu, dianjurkan untuk menjadikannya akhir shalat malam. Apabila seseorang berkehendak untuk shalat tahajjud pada malam hari, maka sebaiknya ia tidak menunaikan salat witir menjelang tidur, tapi melaksanakannya setelah shalat tahajjud. Namun jika ia tidak bermaksud demikian, maka sebelum tidur, ia dianjurkan untuk menunaikannya. Walhasil, shalat witir adalah shalat yang dilaksanakan paling akhir diantara shalat-shalat malam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan: “Jadikanlah witir akhir shalat kalian di waktu malam”. [HR. Bukhari]. “Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah (“disaksikan”) [HR. Muslim].

Adapun waktunya adalah setelah shalat ‘Isya hingga fajar. Kata Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allâh telah membantu kalian dengan shalat yang lebih baik daripada kekayaan rajakaya, yaitu shalat witir. Maka kemudian Allâh menjadikannya untuk kalian [agar dilaksanakan] mulai dari ‘Isya hingga terbit fajar”. [HR. lima sunan selain Annasâiy]

Sholat witir boleh dilaksanakan tiga rakaat langsung dengan sekali salam, atau dua rakaat salam kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat.

Dewan Asatidz Pesantren Virtual

NB. :
Boleh saja melaksanakan shalat tahajud, meskipun setelah shalat tarawih. Sebaiknya dengan mengikuti shalat tarawih berjamaah, namun tidak mengikuti shalat witir, sebab yang lebih afdal menempatkan shalat witir di akhir shalat malam. Usai tahajud baru melaksanakan shalat witir.

Source : http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/333.shtml

About these ads

One Response

  1. Assalamu alaikum wr wb.
    mohon penjelasan mengenai niat dari sholat yang dilakukan untuk membatalkan shalat witir yang sudah dilaksanakan berbarengan dengan shalat tarawih, dan apakah setelah melakukan shalat tahajud saya harus menambah 1 rakaat lagi untuk menutup shalat malam, jika demikian niatnya bagaimana.
    wassalamu alaikum wr. wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: